Header Ads

IIMS Infinite Live

Asap Karhutla Pekat, Udara Tiga Daerah di Kalimantan Berstatus Bahaya

Sumber: ANTARA FOTO/Auliya Rahman

Kualitas udara di tiga daerah di Kalimantan masuk kategori berbahaya, akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Rabu (14/10/2026) pukul 13.00 WIB, dua daerah berada di Kalimantan Tengah dan satu daerah lainnya di Kalimantan Barat. Kategori tersebut ditandai dengan warna hitam.

Kualitas udara dikategorikan berbahaya jika konsentrasi partikulat halus PM2.5 melampaui sekitar 250 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Menurut BMKG, konsentrasi tertinggi di Indonesia tercatat di ibu kota Kalimantan Tengah. Sementara itu, daerah lain di Kalimantan Tengah mencatat konsentrasi sebesar 378,8 µg/m³, sedangkan satu kabupaten di Kalimantan Barat mencapai 307,2 µg/m³.

Di ibu kota Kalimantan Tengah, langit tampak kekuningan sejak Rabu pagi. Prakirawan BMKG, Chandra, menjelaskan kondisi tersebut terjadi karena banyaknya partikel asap karhutla di atmosfer yang menghamburkan dan menyerap cahaya, sehingga warna cahaya yang sampai ke mata berubah menjadi kekuningan atau kemerahan. Kota itu juga dilaporkan mengalami kondisi kualitas udara dalam kategori berbahaya selama 37 hari berturut-turut.

Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat termasuk dua dari enam provinsi prioritas penanganan karhutla nasional. Berdasarkan dasbor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Selasa (13/10/2026), Kalimantan Tengah mencatat 3.835 titik panas dan 49 titik api yang masih menyala, dengan jarak pandang sekitar 200 meter. Kalimantan Barat mencatat 466 titik panas dan 10 titik api, dengan jarak pandang berkisar 200 meter hingga 7 kilometer.

Pemerintah sebelumnya telah mengingatkan tentang bahaya paparan asap bagi kesehatan. Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, dr. Then Suyanti, dalam konferensi pers pada 26 Agustus menyatakan bahwa risiko PM2,5 tidak hanya ditentukan konsentrasi polutan, tetapi juga durasi lama paparan, aktivitas, dan tingkat kerentanan individu, sehingga perlu “respon cepat kita semua” dalam menghadapi Risiko tersebut.

Daerah Terdampak Lain

Asap karhutla juga menjalar ke Sumatra. Kepala BMKG Wilayah I, Hendro Nugroho, menyebut asap terdeteksi di seluruh Sumatra Utara pada Rabu, dengan konsentrasi PM2,5 berada pada kategori sedang hingga tidak sehat, sementara jarak pandang turun menjadi 1 hingga 4 kilometer pada pukul 10.00 WIB.

Di Medan, stasiun pemantau kualitas udara mencatat Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) sebesar 136 atau masuk kategori tidak sehat pada pukul 07.00 WIB. Dinas Lingkungan Hidup setempat menyebut kondisi tersebut dipengaruhi oleh sebaran asap dari wilayah lain di Pulau Sumatra yang terbawa angin.

Sebaran titik panas di Pulau Sumatra didominasi wilayah selatan. Berdasarkan data BMKG hingga pukul 23.00 WIB pada Rabu (7/10/2026), tercatat 4.845 titik panas di Pulau Sumatra, meningkat dari 3.157 titik pada Selasa sore (6/10/2026). Sumatra Selatan menjadi provinsi dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 3.847 titik.

“Selain Sumatra Selatan, titik panas cukup tinggi juga terpantau di Jambi sebanyak 384 titik,” kata Prakirawan BMKG Pekanbaru, Yasir P., di Pekanbaru, Kamis (8/10/2026).  Selain itu, BMKG mencatat 316 titik panas di Kepulauan Bangka Belitung dan 251 titik di Lampung. Sementara itu, Riau dan Bengkulu masing-masing mencatat 19 titik panas.

Meski jumlah titik panas di Riau tergolong sedikit, provinsi itu diselimuti kabut asap kiriman, dengan konsentrasi partikulat sejak Kamis dini hari masuk kategori sangan tidak sehat, di atas 200 µg/m³. Yasir mengimbau warga agar memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan, serta membatasi kegiatan di luar rumah apabila asap semakin pekat.

Penulis: Malika Heryuningtyas

Editor: Nasywa Davina S.K.